Diskusi perihal Internet Sehat Bikin Hebat sama sekali tak sepele. Bila uraian melulu bersikutat pada dampak buruk internet, semacam pornografi, kriminalitas, gaya hidup, atau “anak remaja yang tergila-gila game online” yang menguras duit orang tua, maka kita hanya menyentuh bagian kecil saja.

Tentu saja ini keliru parah. Seperti orang buta yang mendefinisikan gajah sebagai “binatang berekor panjang”, lantaran hanya itu yang dia pegang dan ia deteksi. Harap catat jantung persoalan “Internet Sehat” yang sesungguhnya adalah ini: revolusi budaya!

Dua kosa kata itu, masing-masing “revolusi” dan “budaya” sejatinya dua karakter yang melekat dalam temuan internet. Mari lacak sepilah demi sepilah.

Kamus apa pun selalu merujuk istilah revolusi sebagai perubahan besar-besaran. Orang-orang Komunis, Sosialis, atau Kapitalis sekali pun akan setuju dengan konsep ini. Kemudian ada tambahan, perubahan cepat, radikal, memakan korban, atau bahkan di dunia Komunis dilakukan dengan berdarah. Pun dengan internet. Siapa bilang di “jejaring dunia maya itu tak makan korban?”

Revolusi Internet
Mangsa pertama yang dilahap internet justru adalah “saudaranya” sendiri (persis dengan ajaran Mao Tse Tung, revolusi memakan anak-anaknya sendiri). Tak lain adalah televisi, fotografi, radio, film, telepon, dan koran/ buku-buku. Daftar panjang barusan adalah wahana yang menyalin audio, teks, gambar, dan dimensi visual dalam perangkat media massa. Oleh internet, semua karakter multi media itu “dilahap” sekaligus. Internet adalah hybridmedia (gabungan multi media dalam satu bentuk.

Lalu soal revolusi dengan karakter cepat. Dibanding temuan apa pun, yang biasanya memakan proses dan waktu yang lama untuk menjadi sempurna, internet sungguh sebuah perkecualian.

Benar bahwa benih kelahiran inovasi internet mengakar cukup lama, yaitu di tahun 60-an, ketika Departemen Pertahanan AS mendistribusikan data intelejen yang vital ke beberapa tempat. Namun, kelahiran “bayi internet” yang sesungguhnya persis terjadi di paruh awal 90-an. Ingat, ketika Bill Clinton dilantik menjadi Presiden, pengakses internet hanya 3.000 user. Hari ini, internet menjalar dari negara ujung langit (Bhutan), hingga Islandia (Kutub Utara). Ratusan juta manusia menggunakan teknologi terbaru ini. Betapa cepat ledakan internet merambah ke segala pelosok.

Pendek kata, revolusi internet bergerak dalam soal waktu yang cepat, daya jangkau yang luas, dan kecepatan proses inovasi. Hanya belasan tahun saja media Internet menjadi benar-benar sempurna.

Budaya Internet
Masuk pada kategori budaya. Dalam gerak langkah internet terselip revolusi sosial budaya yang begitu radikal. Ketika manusia mengenal industri buku, koran, telepon, fotografi, radio, televisi (sebagai wakil dari media massa), maka perkembangannya berlangsung eksponensial, tahap demi tahap.

Sekedar ilustrasi, ketika budaya film menemukan bentuk sempurna seperti sekarang, justru melewati etape panjang nan melelahkan. Mulai dari inovasi potongan gambar bergerak oleh Lumiere di Perancis, awal abad 20, lalu menjadi “gambar idoep yang bisu” (seperti film Charlie Chaplin), beralih ke “gambar idoep yang bersuara”, hingga akhirnya sempurna. Waktu yang dibutuhkan adalah puluhan tahun. Di situ, masyarakat yang menerima temuan-temuan media massa, punya waktu panjang untuk beradaptasi.

Meskipun juga terjadi goncangan budaya alias kekagetan pada masyarakat luas, namun dampaknya masih terbilang biasa-biasa saja. Revolusi budaya dalam fase media pra internet ini malahan menjadi lelucon naif.

Misalnya di Indonesia. Ketika film atau “gambar idoep” yang berjudul Kingkong diputar ke publik (tahun 1930-an), para penonton kaget, mengira sebagai kingkong sungguhan, dan mereka lari ke dukun mencari jimat penyelamat. Atau ketika televisi diperkenalkan, disebut sebagai benda sihir ciptaan setan. Atau ketika radio masuk ke Indonesia, disebut-sebut sebagai tanda-tanda kiamat sudah dekat. Inilah goncangan budaya tingkat dasar.

Tetapi, ketika internet masuk, bukan lagi goncangan, melainkan revolusi budaya! Bagaimana memahami revolusi budaya internet itu?

Peralihan Budaya
Basis perkembangan teknologi internet berpijak pada budaya berikut ini. Pertama, peralihan dari teknologi manual ke digital, dari teknis ke elektronis, dari dimensi delayed time (tertunda) menjadi real time (segera). Di situ mengkar budaya serba cepat, instan, segera, dan berkejaran dengan kecepatan.

Kedua, revolusi internet adalah multipikasi dan pelipatgandaan interaksi antar manusia. Sebelumnya, teknologi selalu satu arah, atau kalau pun dua arah dan interaktif, selalu terjadi seleksi dan pemisahan. Dalam internet, semuanya serba sederajat, seimbang, dan anti dominasi. Dengan kata lain, demokratisasi kehidupan menjalar secara mutlak.

Ketiga, revolusi budaya internet mengagungkan pada kompetisi. Asas pemenang adalah yang paling kreatif, paling inovatif, dan mereka yang berkuasa di internet adalah yang sanggup menggabungkan kecanggihan teknologi dengan seni. Asas kompetitif ini berdampak pada yang paling berpengaruh adalah yang paling memberi manfaat.

Terakhir, keempat, dibalik kedahsyatan internet sebenarnya ada budaya yang runtuh, yaitu feodalisme, anti demokrasi, dan kelas-kelas sosial atau politik (dan termasuk juga kasta dalam agama). Kebebasan adalah mutlak. Budaya sensor atau proteksi, nyaris selalu ketinggalan. Seperti yang kita lihat di China, atau pun “proteksi anti pornografi” di Indonesia.

Rumus Adaptasi
Uraian panjang di atas mengikat kita pada satu perspektif. Bahwa konsep Internet Sehat Bikin Hebat adalah perkara budaya massa, bukan masalah orang per orang. Konteksnya meluas pada keseluruhan (misalnya generasi muda se-Indonesia). Kampenye internet sehat harus berpijak pada formula adaptasi budaya massa, bukan perlindungan terhadap orang, kelompok, atau bahkan generasi tertentu. Budaya internet adalah budaya massal.

Skenario paling awal adalah dengan mendorong budaya sosial yang sepadan dengan revolusi budaya internet, yaitu mengandalkan kecepatan, ketepatan, dan bersegera. Internet tak akan bermakna apa-apa kalau budaya sosial kita masih tenggelam dalam tabiat korupsi waktu, menunda-nunda urusan, birokrasi panjang, politik pengalihan, atau pun berleha-leha.

Berikutnya, persis dengan watak dasar internet, yaitu kompetitif dan menggabungkan teknologi, sains dan seni, maka kampanye internet sehat harus berjalan beriring dengan sosialisasi penggunaan teknologi, sains, dan seni secara beriringan. Tak mungkin generasi muda memanfaatkan internet dengan sehat, bila perkembangan teknologi di Indonesia mandeg, dunia seni terbengkalai, atau ilmu pengetahuan terabaikan. Semuanya perlu berjalan beriringan.

Catatan terakhir, kita tahu bahwa teknologi internet berbasis pada rasionalitas dan keunggulan gagasan. Olehnya, filsafat Internet Sehat bikin Hebat bukan retorika abstrak. Melainkan bisa konkret. Dengan syarat agak berat. Misalnya dengan melucuti tradisi mistis, non demokratis serta feodal, yang masih bersemayam dalam masyarakat kita.

Adalah menyedihkan, hingga hari ini dunia internet kita masih bertebaran dengan tradisi mistik (misalnya situs-situs paranormal dan perdukunan), serta gerakan anti demokrasi (misalnya situs-situs politik dari kelompok tertentu).  Paling parah, wahana internet juga berlumuran dengan pornografi dan lalu lintas kaum kriminalis dan teroris.

Penyakit ini tak lain dari kegagalan para pengguna internet untuk berkompetisi dan adu gagasan. Mereka adalah para pecundang, yang tak tahu filsafat dasar internet, yaitu rasionalitas, kecepatan, dan kompetisi. Mudah-mudahan kita semua mampu berinternet dengan sehat.