TAMAN Nasional Bromo-Tengger-Semeru menjadi destinasi unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 2012. Di sini wisatawan dapat menikmati indahnya panorama matahari terbit sebagai salah satu keunggulan Puncak Gunung Bromo.

Gunung Bromo, yang terletak di antara Kabupaten Malang, Probolinggo, dan Pasuruan memiliki tinggi 2.350 meter diatas permukaan laut dan berada di kaki Gunung Semeru. Gunung yang memiliki bentuk unik ini memiliki pemandangan sangat indah juga reltif lebih mudah dijangkau daripada Gunung Semeru.

Mencapai Gunung Bromo dapat menggunakan mobil pribadi maupun menyewa kendaraan. Ada empat jalur masuk ke kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru, yaitu Desa Cemorolawang jika melalui jalur Probolinggo, Desa Wonokitri dengan jalur Pasuruan, Desa Ngadas dari jalur Malang dan Desa Burno adalah jalur Lumajang.

“Sewaktu mengunjungi Bromo, saya berangkat dari Probolinggo, menuju Cemoro Lawang. Perjalanannya memakan waktu 1,5 hingga 3 jam perjalanan,” tutur Theo (24), seorang wisatawan yang pernah mengunjungi Bromo ketika dihubungi okezone, baru-baru ini. “Dari situ perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan jeep karena medannya cukup menantang,” lanjutnya.

Biaya sewa jeep sebesar Rp300 ribu per unit. Jeep akan melewati medan lautan pasir dan jalur pendakian dengan jalan berbatu hingga sampai ke puncak Pananjakan untuk menuju puncak Bromo. Dari Pananjakan menuju puncak Bromo tidak dapat menggunakan kendaraan. Anda harus berjalan kaki atau bisa juga menyewa kuda.

“Di sekitar Pananjakan banyak orang suku Tengger yang menyewakan kuda. Biasanya harganya Rp70 ribu per kuda, namun bisa juga berbeda untuk wisatawan asing,” ujarnya.

Anda akan diantar sampai ke anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 buah untuk dapat melihat kawah Bromo dari atas. Di sinilah, Anda bisa melihat pemandangan matahari terbit dan kawah Bromo yang mengeluarkan asap.

“Waktu yang tepat untuk mengunjungi Bromo adalah saat subuh agar bisa melihat pemandangan matahari terbit di puncaknya. Jadi kalau mau melihat matahari terbit di Bromo, sebaiknya sudah berangkat dari Probolinggo sejak malam hari,” tambahnya.

Atraksi wisata utama di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini memang pemandangan kawah Bromo yang fantastis dan matahari terbitnya. Belum lagi lanskap lautan pasir di sekitarnya yang luar biasa. Tak heran Bromo kerap dijadikan lokasi syuting film dan juga pemotretan.

Selain itu, menurut Theo, yang menarik dari Bromo adalah kehidupan suku Tengger. “Suku Tengger adalah orang-orang yang ramah dan mereka akan dengan senang hati memandu wisatawan menuju Gunung Bromo,” katanya.

Suku Tengger adalah orang-orang yang tinggal di kawasan Gunung Bromo yang dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Bagi mereka, Gunung Bromo dipercaya sebagai gunung yang suci.

“Setiap tahun, masyarakat Tengger mengadakan upacara kasodo di pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo menuju puncak Gunung Bromo. Upacara sakral ini sangat menarik untuk disaksikan,” ujarnya.

Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekira tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Menurut Theo, kawasan Bromo-Tengger-Semeru adalah kawasan wisata yang sangat indah dan komplit.

“Bagi yang ingin melihat pemandangan pegunungan tanpa bersusah payah, bisa ke Gunung Bromo sedangkan bagi para pencinta alam dapat mendaki puncak Gunung Semeru,” katanya.

Apalagi, sudah banyak fasilitas dan akomodasi di sekitar Bromo. “Sudah banyak penginapan dan warung-warung makan kecil di sekitarnya,” tandasnya.

Menurutnya, yang masih kurang adalah transportasi karena dibutuhkan waktu yang cukup lama dari kota untuk mencapai Pananjakan. “Selain itu, di sekitar Pananjakan tidak ada ATM atau swalayan yang cukup lengkap, jadi sebaiknya wisatawan sebelum mencapai Cemoro Lawang terlebih dahulu melengkapi perbekalan di kota,” tutupnya.