Rabu sore adalah waktunya bagi teman-teman Transform Institute untuk berkumpul. Kami biasa menghabiskan sore dengan  saling berbagi pengalaman menulis atau berdiskusi apa saja. Namun sayang, sudah lama agenda ini terhenti. Baru tanggal 18 Januari kemarin agenda kembali berjalan setelah bekerjasama dengan LDK UKKI dan KataQita Management.

Bertempat di Student Center, kali ini diskusi dibersamai Yusuf Maulana (yusufmaulana.com) dengan tajuk Peran Dakwah di Era Web 2.0.

Istilah web 2.0 bisa diartikan sebagai generasi kedua layanan berbasis web. Pada generasi ini lebih menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna, misalnya jejaring sosial, blogosphare, wiki dan lainnya. Dalam perkembangannya, peran web 2.0 semakin pesat karena didukung kemudahan mendapat gadget pengkases web. Hal ini terasa di tahun-tahun terakhir dengan munculnya laptop, tablet, ponsel pintar atau modem dengan harga yang terjangkau.

Pak Yusuf kemudian memberikan sebuah data tentang penggunaan akses internet di Indonesia. Di seluruh dunia, Indonesia menduduki peringkat ke 2 untuk jumlah pengguna Facebook dan peringkat ke 3 untuk jumlah pengguna Twitter. Tidak begitu mengagetkan jika kita melihat antusias masyarakat akan dunia internet. Karena menurut data Manggalany, di tahun 2010 Indonesia memiliki 135 juta pelanggan seluler, 85 juta pelanggan GPRS dan 12 juta pelanggan 3G. Tentu dapat dipastikan data ini akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Fenomena penggunaan akses informasi seperti ini dikenal juga dengan istilah mobile miracle.

Berbicara tentang keajaiban dunia mobile, kita mengenal Charlie dan kakaknya. Di situs Youtube, video mereka yang berjudul “Charlie Bit My Finger-again!” menjadi yang terpopuler. Berapa jumlah orang yang menonton video ini, saat saya menulis artikel ini angkanya sudah mencapai 410.240.778. Jumlah yang sanagt fenomenal. Kabarnya, orang tua Charlie yang merekam adegan di video tersebut sampai mendapatkan sejumlah uang dari Youtube. Kalau berbicara masalah ini, di tanah air kita mengenal artis dadakan seperti Shinta-Jojo, Norman atau Si Udin. Mereka juga berhasil meraup popularitas karena mengunggah video mereka ke internet dan ditonton banyak orang.

Dalam diskusi ini Pak Yusuf berpesan agar setiap kita harus mengambil peran di dunia virtual. Era web 2.0 dan gejala mobile miracle adalah peluang besar untuk aktivitas menebar kebaikan. Saya pahami betul maksud kalimat ini. Karena setiap detiknya selalu ada banyak orang yang sedang menatap internet. Tentunya kita menginginkan orang-orang itu selalu mendapati kebaikan. Sehingga kita memiliki kewajiban menjadi penyumbang informasi kebaikan tersebut. Salah satunya dengan membuat ruang gagasan, baik dalam bentuk situs lembaga ataupun pribadi seperti blog. Untuk menjadikan aktivitas virtual kita efektif beliau memberikan beberapa tips,. Apabila kita mengelola situs atau blog sebaiknya:

1. Judul dan lead tulisan dibuat provokatif.
Hal ini dikarenakan pengakses internet adalah pembaca cepat dan tidak mau bertele-tele, sehingga mutlak tulisan awal kita dibuat semenarik mungkin untuk dibaca.

2. Visual menarik.
Buat atau pilih template situs yang menarik. Tidak terlalu ramai namun juga tidak minimalis. Optimalkan tampilan dengan menggunakan software-software desain seperti CorelDraw, Photoshop dan lainnya.

3. Konten aktual.
Faktor ini mutlak dibutuhkan. Mengingat mudahnya kita mengunggah informasi. Keterlambatan pemberitaan menjadi kesalahan yang fatal. Untuk itu diperlukan komitmen yang kuat untuk menekuni konten agar selalu up to date. Apabila kita mengelola situs sebuah institusi, usahakan memiliki banyak SDM untuk mengurusi konten.

Demikianlah kami menghabiskan sore Rabu kala itu. Ulasan yang ada di tulisan ini adalah rekaman gagasan diskusi di memori yang terbatas ini. Saya beranikan diri mengunggah menjadi sebuah posting adalah sebagai ungkapan semangat dari sengatan diskusi ini. Semoga sahabat juga mengalami hal yang sama, sehingga kita bisa memanfaatkan era web 2.0 dengan menebar banyak gagasan dalam mewujudkan kebaikan. AYO NGE-BLOG!!